Mengenal lebih dalam band “Letto”

www.elec-toolbox.comMengenal lebih dalam band “Letto”Band ini beranggotakan Noe (penyanyi), Patub (gitaris), Arian (pemain bas) dan Dhedot (drummer). Letto didirikan di Yogyakarta pada tahun 2004. Keempat orang ini adalah teman dari SMA atau sekolah di SMA 7 Yogyakarta.

Tanpa merilis album selama dua tahun berturut-turut, Letto akhirnya resmi merilis album perdananya pada 1 Agustus 2006 dengan merek dagang Musica Studio’s. Album pertama mereka “Truth, Cry and Lie” berisi 10 lagu dan menampilkan “Sampai Nanti, Sampai Mati” sebagai lagu andalannya. Album debut ini cukup kompetitif dibandingkan dengan penjualan album Peterpan, Nidji, Samsons dan band lainnya. Album pertama Letto laris manis di pasaran, dengan penjualan mencapai 510.000 kopi.

Mereka berhasil menyabet gelar album rookie dalam SCTV Music Awards 2007. Tak hanya itu, album ini juga menyabet predikat grup musik terbaik Singapura di Planet Muzik 2007. Setelah sukses dengan album pertama Letto, dia tidak cepat puas. Letto terus mengukir namanya di industri musik Indonesia. Pada 16 Agustus 2007, dia merilis album keduanya dengan nama “Don’t Make Me Sad” Berisi 12 lagu. Di album ini, Letto memasukkan “Before the Light” dan “The Request of the Heart” sebagai lagu andalan mereka. Album ini juga sangat sukses di Malaysia.

Setelah dua tahun absen, Letto resmi merilis album ketiganya di tahun 2009 yang bertajuk “Lethologica”. Album ini secara aktif mempromosikan “Lubang Hati”. Album tersebut terjual lebih dari 100.050 eksemplar.

Pada tahun 2011, Letto merilis album baru dengan nama yang sama dengan album sebelumnya. Judul albumnya adalah “Cinta … Sabar”, yang memiliki juara “In Grief” dan “Cinta … Be Patient”.

Album

  1. Truth, Cry and Lie

Album pertama mereka berjudul “Truth, Cry and Lie”, yang dirilis pada tahun 2006. Namun sebelumnya Letto juga merilis album PILIH 2004, namun nama bandnya tetap Leto (a T). Album pertama mereka memenangkan Penghargaan Musik SCTV 2007 dalam kategori “Album Pendatang Baru”.

Tak hanya di Indonesia, popularitas Letto juga merebak hingga ke Malaysia. Letto merilis album Truth, Cry & Lie di pasar musik Malaysia pada tanggal 23 Juli 2007. Setelah lagu-lagu mereka “Ruang Rindu” dan “Sandaran Hati” berhasil menduduki posisi teratas, mereka memutuskan bergabung untuk merevitalisasi industri musik Malaysia. Diputar di beberapa stasiun radio Malaysia. Album pertama Letto dianugerahi “Planet Muzik 2007” pada 8 Juni 2007, yang merupakan grup musik terbaik Singapura.

  1. Don’t Make Me Sad

Menyusul kesuksesan album pertama, Letto merilis album kedua “Don’t Make Me Sad”, yang dirilis pada 16 Agustus 2007. Di album ini, Letto menjagokan lagu “Before the Light”. Lagu ini tak hanya unik, tapi juga diedit model tunarungu Amanda. Lirik lagu ini berkisah tentang seseorang yang merasa kesepian karena ditinggal oleh teman-temannya. Leto akan mencurahkan sebagian dari hasil penjualan album ini untuk produksi huruf Braille. Musica akan mempromosikan album ini ke Malaysia. Di album ini, lagu-lagu menarik lainnya adalah lagu berbahasa Inggris “Ephemera” yang bercerita tentang indahnya pertemuan Nabi Muhammad SAW di malam hari, “Bunga Malam” dan irama yang lebih mencolok dari “The Request of the Soul”.

  1. Lethologica

Album ini hanya merilis 3 single, yaitu Lubang Di Hati, Senyumanmu dan Kepada Hati. Setelah itu, Letto Vakum bekerja sekitar satu tahun. Album ini tergolong unik karena masih mengandung keunikan Letto.

  1. Cinta. . bersabarlah

Album ini berjudul “Love … Be patient” yang artinya jika Plettoninick benar-benar jatuh cinta dengan Lotto, maka mereka harus bersabar. Single utama album tersebut adalah “Sad”. Saya memilih lagu “Sadness” karena memenuhi kondisi negeri yang menyedihkan ini.

  1. Songlit

Popularitas lagu-lagu Letto telah menginspirasi sebagian orang untuk menjadikannya novel atau biasa disebut Songlit (lagu-lagu yang akan dipromosikan). Novel pertama yang ditulis Letto adalah “Ruang Rindu” yang pernah menjadi soundtrack sinetron Intan. Novel Ruang Rindu ditulis oleh Andi Eriawan dan diterbitkan oleh Gagas Media pada Agustus 2007. Enam bulan kemudian, diterbitkan oleh Karla M. Nashar dengan judul yang sama dan diubah menjadi “Before the Light” yang diterbitkan oleh Gagas Media.

Baca: Biografi Personil Linkin Park

Anggota Letto

  1. Sabrang Mowo Damar Panuluh / Noe (Vokal)

lahir di Yogyakarta, 10 Juni 1979 adalah penyanyi dan kibordis Letto (sampai Widi masuk posisi kibordis pada tahun 2014). Noe adalah putra mbarep Emha Ainun atau Cak Nun, pemerhati budaya. Lahir dari psangan sah nya,sangat sayang ketika dia berusia 6 tahun, orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Noe bersekolah di SD 1 Yosomulyo di Lampung, kemudian melanjutkan ke SMP Xaverius Metro di Lampung.

Ketika Noe masih di sekolah menengah pertama, pamannya memberinya rekaman lagu ratu yang direkam sebelumnya. Setelah mendengarkannya berkali-kali, akhirnya ia memikirkan bagaimana membuat musik yang dapat merangsang emosi orang dan mentransfer emosi orang lain. Noe mulai menyentuh keyboard, ini adalah instrumen pertama yang pernah disentuhnya.

Setelah lulus SMP, Noe kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan sekolah di SMA 7 Yogyakarta. Dia bergabung dengan ayahnya dan bergabung dengan komunitas ayahnya. SMU 7 Yogyakarta-lah yang mempertemukan Noe dan Ari, Dedy dan Patub. Saat tersebut mereka tidak mempunyai grup. Saat 1998, Sang vokalis membuat sebuah keputusan untuk berkuliah di universitas Albertaa di negara orang. Dia menempuh dua mata kuliah sekaligus, ialah matematik dan fisikaaa. Beberapa tahun setelah nya dia memutuskan kembali pulang kampung dengan gelar Sarjana Matematika dan Sarjana Fisika.

Sekembalinya ke kampung halaman dan berkumpul kembali dengan teman-teman dekatnya, Noe sering bermain musik di sanggar Kiai Kanjeng yang dipimpin oleh Novi Budianto, yang selama ini menjadi rekan dan sahabat ayahnya Cak Nun. Dari Sanggar Kiai Kanjeng, Noe bisa belajar cara meracik, menguasai, membuat dan menggubah musik. Noe mulai menggubah lirik lagu, dan akhirnya muncul di album pertama Letto, Truth, Cry and Lie.

Pada tahun 2004, Musica mulai tertarik dengan lagu yang dibawakan oleh Noe dan teman-temannya. Baru kemudian mereka membentuk band bernama Letto. Pada tahun 2006, Letto merilis album pertamanya “Truth, Cry and Lie”. Keseriusan musik membuat Letto mendapatkan penghargaan double platinum. Keberhasilan ini mendorong Letto untuk memproduksi album kedua “Don’t Make Me Sad” (2007).

Sejak 10 Juni 2008, ia ikut mendirikan Production House Pic [k] Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. Film pertama mereka “Sunday Morning in Victoria Park” dirilis pada 10 Juni 2010. RAYYA, “Di Atas Cahaya” ditulis oleh ayahnya sendiri Emha Ainun Nadjib dan Viva Westi. Pada tahun 2015, Pic [k] Lock Productions bekerja sama dengan H.O.S. Tjokroaminoto dan MSH Films meluncurkan Guru Bangsa Tjokroaminoto yang disutradarai oleh Garin Nugroho.

  1. Agus Riyono / Patub (Gitar)

Nama lengkap Patub adalah Agus Riyono (lahir 2 Agustus 1979 di Yogyakarta, umur 41 tahun) dan merupakan gitaris dari band Letto. Patub adalah saudara dari drummer Letto, Dedy Triyono (alias Dhedot). [1]

Patub mengenal musik sejak kecil. Saat memasuki dunia band saat duduk di bangku SMP, karir musiknya dimulai. Awalnya, ia sering memainkan lagu-lagu milik Koes Plus. Kemudian pengenalan musik terus berkembang menjadi gaya rock seperti Scorpion, Queen dan Led Zeppelin. Selama kuliah, Patub lebih mengarahkan gaya musiknya ke rock klasik. Patub juga sempat menjadi drummer. Namun pada akhirnya ia lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Universitas Gadjah Mada) ke-98 Jurusan Ilmu Bumi, hingga ia bergabung dengan Letto, ia fokus pada gitar.

  1. Ari Prastowo / Arian (Bass)

Ari Prastowo dikenal sebagai Arian (lahir di Bantul, 27 Maret 1979; umur 41) dan merupakan bassis Letto [1].

Pada tahun 2004, ia membentuk band Letto dengan teman-teman sekolah menengahnya Noe dan Patub serta adik laki-laki Patub, Dhedot.

  1. Dedi riyono / Dhedot (Drum)

Dedi Riyono adalah Dhedot (lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1987; umur 34), seperti yang diketahui semua orang, dia adalah drummer dari band Letto. Dhedot adalah adik dari gitaris Letto, Agus Riyono alias Patub.

Dhedot telah mengenal musik sejak dia masih kecil. Ketika Dhedot masuk ke taman kanak-kanak, dia mulai aktif mengikuti drum band sekolah. Dhedot tidak pernah mengikuti sekolah drum formal. Selain membuat musik, ia juga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta jurusan periklanan. Namun karena padatnya jadwal grup Letto, Dhedot kesulitan mengatur jadwal kelasnya. Terkait alasan memilih jurusan periklanan, Dhedot berharap bisa berwiraswasta setelah lulus nanti. Putra seorang pedagang baja di Yogyakarta ini mengatakan, sejak dikenal banyak orang dengan Lotto, hatinya tidak berubah.

Label Musik Letto

  1. Musica studio (2005 – 2012)

Musica Studio adalah perusahaan rekaman independen yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Perusahaan menggunakan nama Musica Studios pada tahun 1971 dan Metropolitan Studio sebelum 1968. Perusahaan ini merupakan perusahaan rekaman terbesar di Indonesia. Perusahaan memproduksi musik dan hiburan

  1. Arka Music Indonesia (2012 – 2015)

Arka Music (dulu bernama EMI Indonesia) adalah perusahaan rekaman yang berbasis di Jakarta. Nama Arka Music mulai digunakan pada bulan Juli 2010 (yaitu Arka Music-EMI), dan nama EMI Indonesia resmi dihapus pada tahun 2011 menjadi Arka Music Indonesia.

Baca Juga: Perjalanan Karir Band Sum 41 Dari Awal Hingga Saat ini

Membawa Kesejukan

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar nama Letto? Beberapa orang menganggap Letto adalah band yang penuh dengan lagu-lagu cinta. Cinta macam apa Kebanyakan orang mempersempit pemahaman mereka tentang cinta menjadi perasaan cinta antara dua orang yang berbeda jenis kelamin. Hanya ada cinta antara pria dan wanita. Dalam karya Leto, ini mungkin benar.

Bagaimanapun, Leto berbicara tentang cinta tidak hanya dalam hubungan antara dua orang. Tak hanya itu, karya bertema cinta Letto sebenarnya lebih universal dan filosofis. Pemilihan kata dalam lirik lagu Letto seringkali melelahkan, bahkan bagi sebagian orang yang baru saja menyanyi namun sudah tidak hidup, liriknya terasa sangat santai.

Tinjauan singkat atas pekerjaan awal mereka hingga Nanti Sampai Mati (2005). Sekilas judul tersebut menggambarkan sebuah hubungan (cinta) yang akan bertahan hingga titik kematian. Padahal, jika kita mempelajarinya lebih dalam, lagu ini akan mendorong Anda untuk memiliki tekad yang kuat

Lagu Sandaran Hati dalam album yang sama dengan lirik komentar di atas dapat diterjemahkan sebagai harapan untuk jodoh. Namun bila dipelajari secara mendalam, lagu tersebut diterjemah kan sebagai penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Inilah Letto dalam filosofi. Sekilas, lagu yang terdengar ringan ini memiliki lirik yang lebih umum dan pilihan kata dengan ciri khas tersendiri. Misalnya, dalam lagu Ruang Rindu, kata “ruang” biasanya menunjukkan ukuran sebuah tempat yang disulap menjadi tempat perasaan untuk bertemu.

Atau, dalam lagu ini Sebelum Cahaya (2007) membuat band ini bergema, karena merupakan lagu tema sinetron yang tayang di TV setiap hari. Perpaduan faktor alam (angin) dan lingkungan (kemesraan) membuat lirik lagu Letto sebenarnya tidak sederhana, namun nyanyiannya nyaman dan sejuk.

Contoh di atas akhirnya membuat Letto menjadi band dengan lagu-lagu konsep. Filosofi hidup juga menjadi ciri khas dari band ini.

Album terakhir yang mereka produksi, Cinta Bersabarlah, adalah pada tahun 2011. Mereka masih mempertahankan perannya, karena tren yang sementara mendominasi industri musik Indonesia, penjualannya terganggu, dan tren ini sering mengalah pada permintaan pasar. Sayangnya, ketika sebuah karya yang baik harus dipinggirkan oleh realitas bid’ah sementara, kenyataan ini dijadikan alasan yang sah untuk menampung lesbian temporer.

Selang waktu lima tahun membuat orang banyak bertanya tentang karyanya. Tahun ini akan hancur dengan datangnya karya-karya baru. Meski saat ini mereka harus mengikuti trend dunia industri dengan mengoleksi senapan dalam bentuk satu buah, namun setidaknya mereka siap menebang hutan dan menunjukkan jati diri filosofis dan metafora yang indah.

Kasih Tak Pilih adalah karya mereka yang dirilis ke publik sebagai single baru. Kalaupun harus menjauh dari sejarah produser rekaman itu, setidaknya Letto akan segera memperlakukan nostalgia sang kekasih.

Cinta Tak Pilih adalah lagu yang temanya merupakan masalah yang harus diselesaikan dengan solusi yang lebih luas. Jika cinta adalah hubungan yang sempit, maka cinta yang lebih damai dan universal adalah pilihan yang positif. Ini kutipan dari lirik lagu “Love Not Choosing”:

Cinta yang tlah hilang

Seharusnya tak mengapa

Karena kasih kan menjaga

Hati yang bersih

Hati yang tlah murni takkan tersakiti

Oleh karena itu marilah kita gunakan kasih sayang yang senantiasa terjaga kebersihan hati untuk membuka ruang kerinduan yang telah terendam.