5 Tempat Wisata Terbaik di Banda Aceh

www.elec-toolbox.com5 Tempat Wisata Terbaik di Banda Aceh. Banda Aceh adalah ibu kota administratif Provinsi Aceh. Banda Aceh adalah kota Islam tertua di Asia Tenggara yang kaya akan peninggalan sejarah dan sangat menarik.

Banda Aceh memiliki banyak destinasi wisata yang menakjubkan, diantaranya wisata sejarah, wisata edukasi dan wisata alam. Peristiwa tsunami dahsyat tahun 2004 menyisakan saksi bisu berupa bangunan-bangunan bernilai sejarah tinggi.

Selain itu terdapat berbagai destinasi wisata alam, seperti pantai, perbukitan, dll. Berikut ini adalah daftar 17 tempat wisata di Banda Aceh yang bisa dijadikan referensi jika anda berkunjung ke Serambi Mekkah. Skuy cek tempat nya barang kali agan agan berencana buat liburan disana!!!!

1. Taman Gunongan

Bukti kisah romantis Sultan Iskandar Muda, raja Darussalam Kerajaan Aceh abad ke-16 masih bisa ditemukan di Banda Aceh. Saat itu, Sultan Iskandar Muda (Sultan Iskandar Muda) membangun taman yang indah untuk istrinya Putri Pahang (Putri Pahang) dengan bak mandi dan tempat peristirahatan, dan masyarakat Ashenis biasa menyebutnya Putroe Phang.

Alkisah, pada awal abad ke-16, Sultan Iskandar Muda berhasil meluaskan wilayah kekuasaannya menjadi negara bagian Malaya, salah satunya Kerajaan Pahang. Saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam menjadi kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara, dengan wilayah yang luas, kekuatan militer yang kuat, peradaban yang maju, dan basis pelabuhan perdagangan dunia yang strategis.

Setelah Sultan Iskandar Muda menaklukkan Kerajaan Pahang, ia membawa beberapa petinggi Kerajaan Pahang, termasuk Putri Pahang, ke Aceh. Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan Putri Pahang. Namun Putri Pahang kerap bersedih karena merindukan kampung halamannya.

Oleh karena itu, Sultan Iskandar Muda membangun Gunongan untuk menyembuhkan kerinduan istrinya dan mengedepankan rasa cinta yang kuat. Hingga saat ini gedung Gunongan masih ada dan bisa dikunjungi. Taman Sari Gunongan terletak di Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman. Tempat ini berjarak sekitar 4 menit berkendara dari Masjid Agung Baiturrahman.

Anda bisa naik bus Trans Kutaraja Koridor 3 jalur untuk mengunjungi Gunongan. Selain bus Trans Kutaraja, Anda juga bisa menggunakan jasa transportasi online (seperti Go-Jek, Grab, Maxim) untuk mencapai lokasi. Sebagai taman ratu, Taman Sari Gunongan sangat luas, dengan Taman Sari, Taman Putroe Phang, Pinto Harapan (Pinto Khop) dan Gunongan (Gunongan) tersusun dari beberapa bagian.

Namun saat ini sebagian dari Taman Sari Gunongan sudah berada dalam kompleks bangunan tersendiri namun sangat dekat. Taman Sari (Taman Bustanussalatin) berjarak sekitar lima menit jalan kaki dari Gunongan. Taman Putroe Phang berada di sebelah Kompleks Reruntuhan Gunongan dan Pinto Harapan (Khop) dan Gunongan (Gunongan) masih dalam satu gedung.

Situs Taman Sari Gunongan buka mulai pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB setiap hari dan tidak dipungut biaya. Taman Sari Gunongan dekat dengan beberapa tujuan lain di Banda Aceh. Gunongan berjarak sekitar 5 menit jalan kaki dari Museum Tsunami Aceh, sekitar 9 menit jalan kaki dari Monumen Pesawat Seulawah 001 RI (pesawat pertama Indonesia), dan hanya 5 menit berkendara dari pangkalan Kapal PLTD Apung.

Baca Juga:

21 Objek Wisata Air Terjun di Bali

2. Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk adalah salah satu wisata asli Aceh Besar sebelum tsunami 2004. Pantai ini selalu ramai, baik itu Banda Aceh, Melaboh maupun wisatawan dari daerah lain. Terdapat pantai berpasir putih dan pepohonan pinus yang gelap, yang merupakan tempat yang ideal untuk melepas penat.

Saat terjadi tsunami, pantai yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Banda Aceh ini merupakan salah satu pantai yang mengalami kerusakan parah. Hotel-hotel yang terletak di tepi pantai dan kawasan pemukiman sekitarnya hancur oleh ombak besar. Lebih dari separuh penduduk Lampuuk tewas dalam bencana ini. Trauma akibat ancaman tsunami membuat masyarakat enggan mengunjungi pantai ini, kecuali banyaknya pohon pinus yang tumbang dan bangkai kapal tsunami. Hal tersebut menyebabkan pantai ditutup untuk kegiatan wisata.

Namun, pantai berangsur pulih. Sekitar setahun setelah tsunami, aktivitas wisata di pantai ini kembali ramai. Pada masa rekonstruksi dan rekonstruksi pascatsunami, pengelolaan Pantai Lampuk diintegrasikan dengan beberapa destinasi wisata lain di Aceh, seperti Pulau Weh, Danau Laut Tawar dan Dataran Tinggi Takengon.

Hal ini berdampak positif bagi pemulihan Pantai Lampuuk sebagai keindahan industri pariwisata Aceh. Tidak hanya wisatawan lokal, tetapi banyak aktivis LSM dan relawan asing yang berkunjung ke pantai, terutama saat mampir saat berselancar, yang juga meningkatkan popularitas pantai. Saat ini dapat dikatakan industri pariwisata di Pantai Lampke sudah pulih seperti sebelum tsunami.

Pengunjung dapat melakukan perjalanan melalui empat pintu masuk ke berbagai wilayah pantai, yaitu Babah Satu, Babah Dua, Babah Tiga dan Babah Empat. Dari titik paling selatan ke titik paling utara, setiap pintu masuk diberi nama sesuai urutan lokasinya. Rute yang paling sering dilalui wisatawan lokal adalah Babah Satu dan Babah Dua. Wisatawan asing biasanya datang dari jalur Babah Tiga. Lokasi ini biasanya digunakan untuk kegiatan selancar atau sekedar bersantai menikmati liburan musim panas.

Selain perbaikan yang dilakukan, pantai ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata, seperti banana boat. Bagi wisatawan yang ingin bermalam, pihak hotel juga menawarkan beragam akomodasi, mulai dari hotel hingga vila, dengan harga yang bervariasi sesuai dengan layanan dan fasilitas yang dibutuhkan.

Selain itu, di pinggir pantai, wisatawan yang ingin mengenyangkan perut bisa dengan mudah menemukan warung seafood. Warung-warung ini menawarkan aneka hidangan ikan bakar, seperti ramby, kerapu, ikan po, udang, cumi-cumi, dll. Saat kumpul bersama keluarga atau teman, Anda bisa menikmati seafood bakar yang enak ini sebagai santapan. Es kelapa muda segar lebih lengkap.

Aktivitas lain yang bisa Anda lakukan saat berkunjung ke pantai ini adalah mengunjungi tempat perlindungan penyu. Kawasan Konservasi Kura-kura terletak di Babah Dua dan dapat digunakan sebagai sarana mendidik anak untuk menjaga lingkungan.

Meski kegiatan massal di sekitar penyu hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, namun pengunjung dapat menemukan banyak ikan kecil yang menetas atau penyu kecil di kolam kecil di salah satu sisi kawasan. Jika pembenihan ini dirasa cukup untuk bertahan hidup di alam liar, maka mereka akan dilepasliarkan ke laut.

3. Taman Ratu Safiatuddin

Taman Sulthanah Safiatuddin dibangun pada masa almarhum Gubernur Jenderal Abdullah Puteh untuk memperingati pengabdian Ratu. Pada kesempatan pembukaan Pekan Budaya Aceh keempat, Presiden RI Megawati Soekarno Putri membuka taman tersebut. Setelah Aceh Damai, Pekan Budaya Aceh ke-5 dan acara kesenian lainnya juga digelar di taman tersebut.

Di taman ini terdapat 23 rumah atau paviliun tradisional dari berbagai daerah atau kota di Aceh. Rumah adat terdiri dari berbagai macam model, ada yang merupakan rumah model panggung yang dibangun dengan bahan kayu, dan ada pula yang dibangun dengan beton.

Rumah adat ini merupakan wujud keragaman suku dan budaya yang berkembang dalam masyarakat Aceh. Taman ini memiliki panggung utama yang biasanya digunakan oleh pemerintah atau pihak swasta untuk menyelenggarakan acara budaya atau kesenian. Panggung ini sering digunakan oleh dunia seni untuk berlatih.

Sebelum mengenal lebih jauh, ada baiknya Anda mengenal siapa Sulthanah Safiatuddin atau yang lebih akrab disapa Ratu Safiatudin. Safiatuddin adalah putri dari Sultan Iskandar Muda (Sultan Iskandar Muda) dan Putri Sani Ratna Indra (Maharaja Lela) .Daeng Mansur) putri yang dikenal dengan nama Teungku Chik Direubee.

Safiatuddin adalah putri pandai yang suka mengarang dan menggubah, sehingga sangat populer di dunia sastra. Sejak usia tujuh tahun, ia menerima pendidikan yang baik dari ulama Hamkanh Fansuri dan Iskandar Tsani dari Nuuddin Ar-Raniry. Ia juga memiliki saudara laki-lakinya Maharaja Lela Abdul Rahim.

Safiatuddin menikah dengan Iskandar Tsani, putra Raja Pahang pada 1620, dan Iskandar Muda diadopsi oleh putra Pahang setelah menaklukkan Pahang pada 1618. Iskandar Tsani baru berusia tujuh tahun. Setelah resmi diangkat menjadi anak angkatnya, ia dipanggil Raja Toyohide. Iskandar Tsani menikah dengan Safiatuddin yang baru berusia tujuh tahun.

Iskandar Tsani memerintah Kerajaan Aceh selama lima tahun. Setelah Iskandar Tsani wafat pada tanggal 15 Februari 1641, Kerajaan Arab Saudi kebingungan mencari penggantinya. Alternatif baginya adalah istrinya sendiri Ratu Safiatuddin.

Namun, ada beberapa konflik antara Uramas dan mereka tidak setuju dengan perempuan yang menjadi pemimpin. Pada akhirnya, ulama terkemuka Nrududdin Ar Raniri dari Aceh berhasil menengahi konflik tersebut. Ratu Safiatuddin akhirnya naik tahta dengan gelar Paduka Sri Sultana. Gelar Tatuul Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’ilahi Fi’l Alam. Dia memerintah selama 35 tahun dan berpartisipasi dalam Perang Malaka pada tahun 1639 M.

Untuk mengabdi pada pengabdiannya, pemerintah Aceh mendirikan taman ini, bernama Taman Sulthanah Safiatuddin (Taman Sulthanah Safiatuddin), yang juga sering disebut dengan Taman Mini Aceh. Taman yang dikelola UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh ini juga dilengkapi berbagai fasilitas. Fasilitas antara lain toilet umum, tempat sampah, tempat parkir, mushola, dll.

Jika ingin menikmati pemandangan berbagai bentuk rumah adat Aceh bisa ke Taman Ratu Safiatuddin setiap hari karena taman ini buka mulai pukul 08.00-18.00 WIB sebelum matahari terbenam. Masuk ke sini secara gratis atau gratis.

Jika wisatawan berkunjung dan ingin istirahat, terdapat beberapa hotel atau penginapan yang berada tidak jauh dari tempat ini, cocok untuk yang ingin bermalam. Selain itu, terdapat kafe di Banda Aceh bagi yang ingin bersantai dan menikmati suasana malam.

Taman ini terletak di Jalan Senangin di Bandar Baru, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Lokasinya bersebelahan dengan Kantor Gubernur Aceh. Selain itu juga dekat dengan Masjid Agung Al Makmur.

Baca Juga:

3 Lagu Bermakna Dalam milik OASIS

4. Air Terjun Kuta Malaka

Air Terjun Kuta Malaka belakangan ini mulai menarik wisatawan. Karena dulu pada masa konflik antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tempat ini sempat menjadi zona merah dan menjadi markas GAM di wilayah Besar Aceh. Tapi sekarang, Anda tidak perlu khawatir untuk berkunjung, karena suasananya yang kondusif dan tidak ada kontak senjata lagi.

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 600 m, memiliki bentuk yang berlapis-lapis, dan lingkungan sekitarnya yang masih sangat alami. Konon masyarakat setempat sudah mencapai 7 tingkatan, bahkan ada yang mencapai 20 tingkatan.

Suara percikan air. Lomba menyanyi dan menyanyi burung. Aroma unik di udara tertiup lembut dari hutan. Ketiganya bersatu untuk menenangkan jiwa dan mendamaikan pikiran sembari menikmati air terjun Kuta Malaka.

Untuk masuk ke Air Terjun Kuta Malaka, pengunjung harus membayar biaya masuk sebesar Rp5.000 per orang. Air Terjun Kuta Malaka berjarak sekitar 200 meter dari pintu masuk hutan. Pengunjung harus berjalan kaki sebanyak 412 anak tangga dan dilindungi oleh pepohonan yang rindang. Burung-burung itu menyapa dengan melolong, dan seolah menyambut turis.

Air terjun Kuta Malaka mengalir dengan air pegunungan yang jernih dan sejuk. Kejernihan airnya membuat dasar danau di bawah air terjun terlihat, dan airnya tampak hijau dari permukaan danau. Air Terjun Kuta Malaka memiliki tujuh tingkat di puncak gunung. Ketinggian masing-masing air terjun adalah 3-6 meter. Di bawah tiap air terjun terdapat danau dengan kedalaman rata-rata 100-200 cm dan lebar 200-300 cm.

Pengunjung bisa bermain seluncuran air, meluncur dari puncak gunung ke danau dari setiap ketinggian air terjun. Pengunjung juga bisa berenang di telaga air terjun. Bagi mereka yang tidak tahu cara berenang, duduk dan menikmati gemericik air, kicauan burung dan suara nyanyian, serta menghirup dalam-dalam aroma udara yang dihembuskan oleh hutan merupakan pilihan yang baik. pohon di tepi danau. Wisatawan yang tidak bisa berenang juga bisa berendam di telaga yang dangkal.

Untuk mencapai lokasi ini, Anda harus terlebih dahulu berada di Banda Aceh. Garuda dan Lion Air terbang dari Jakarta ke Banda Aceh setiap hari. Lokasi air terjun berjarak sekitar 45 kilometer dari Banda Aceh. Sepeda motor atau mobil roda dua lebih cocok untuk mencapai posisi tersebut. Awal perjalanan terasa sangat nyaman. Jalan sepanjang 30 km dari Banda Aceh ke Samahani di kawasan Kuta Malaka mulus dan tenang. Jalan tersebut dikelilingi persawahan hijau yang memanjang dari kiri ke kanan. Di sisi kiri jalan, Anda juga bisa melihat Gunung Hutan Seulawah di kejauhan.

Memasuki kawasan Samahani, pengunjung akan merasakan perjalanan yang sesungguhnya. Jalan sepanjang 15 km menuju air terjun ini masih tanah merah. Pada musim hujan, kondisi jalan berlumpur sehingga kendaraan yang tidak terbatas akan kesulitan untuk berkendara. Jalan tersebut juga harus melewati enam anak sungai dengan kedalaman rata-rata 40-80 cm. Tidak ada jembatan di seberang sungai. Perjalanan melintasi jalan akan memberi Anda perasaan adrenalin. Dalam perjalanan, pengunjung bisa berhenti sejenak untuk menikmati air yang masih jernih di trek.

Dekat dengan Air Terjun Kuta Malaka (Air Terjun Kuta Malaka) berjarak sekitar 5 kilometer, dan jalanan datar menanjak. Jalannya juga sangat licin, apalagi di musim hujan, sehingga mudah tersandung dan kendaraan terpeleset.

Ketika kami sampai di puncak gunung di dekat pintu masuk Air Terjun Kuta Malaka, melalui jalan tanah berwarna merah, tantangan banyak anak sungai dan kemiringan sekitar 30 menit terasa lega. Di puncak timur, pengunjung bisa melihat pemandangan indah, antara lain latar depan perbukitan sabana, daratan Aceh, dan latar Selat Malaka.

5. Museum Rumah Cut Nyak Dien

Mengunjungi tanah Rencong atau Aceh sepertinya sedang diidam-idamkan banyak wisatawan. Keindahan alam, masakan, budaya dan sejarahnya membuat orang-orang muncul dengan rasa ingin tahu secara langsung. Dari segi sejarah, Aceh memiliki beberapa tempat wisata sejarah yang menyimpan memori penjajahan kuno, salah satunya adalah Museum Rumah Cut Nyak Dien.

Museum ini dulunya merupakan kediaman Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, dan merupakan tiruan (tiruan) dari bangunan aslinya yang dibakar oleh Belanda pada tahun 1896. Museum ini didirikan pada tahun 1981 dan kemudian dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan pada tahun 1987 Fuad Hasan (Fuad Hasan). Menyaksikan sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda yang dipimpin oleh pahlawan wanita Cut Nyak Dien (Cut Nyak Dien).

Museum Rumah Cut Nyak Dien terletak di Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Besar, Provinsi Aceh. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari kota Banda Aceh dan hanya membutuhkan waktu 20 menit. Lokasinya yang strategis tidak jauh dari jalan raya dan mudah ditemukan. Selain itu jika membawa mobil pribadi juga bisa menggunakan tempat parkir yang luas.

Museum Rumah Cut Nyak Dien buka setiap hari secara gratis, buka mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Namun, Anda tetap bisa menyumbang secara sukarela ke kotak yang digunakan untuk perawatan museum.

Sesampainya di museum, Anda akan melihat keunikan bangunan sumur, yaitu ketinggian tembok sumur sekitar 2 meter. Dahulu, tujuan pembangunan sumur ini adalah untuk mencegah penjajah Belanda meracuni air. Oh ya, sumur ini nyata, tanpa reproduksi sedikitpun. Saat kamu masuk, kamu akan disambut oleh penjaga yang siap mengantarmu berkeliling rumah.

Museum Rumah Cut Nyak Dien sendiri berbentuk rumah panggung yang ditopang 65 tiang kayu. Ukurannya kurang lebih 25 mx 17 m, menggunakan kayu dan atap jerami. Di dinding ruang depan di depan pohon keluarga Cut Nyak Dien. Tampilan gambar tersebut seakan mengundang Anda untuk mengingat kembali acara ini. Nanti, Anda akan melihat banyak ruangan besar yang dihubungkan dengan pintu. Ruangan ini termasuk area diskusi pahlawan kuno, kamar tidur Cut Nyak Dien, yang berisi koleksi senjata yang digunakan dalam perang, seperti Renkang dan Golok.

Wah, ini menarik, sambil belajar tentang sejarah perang kuno. Mohon tunggu. Sampai jumpa lagi! !